Tuesday, July 06, 2004

PEMILIHAN UMUM, 5 JULI 2004

Kemaren, 5 Juli 2004, mulai jam 7 pagi, seluruh warga Indonesia yang telah terdaftar sebagai peserta Pemilu 2004 berbondong2 ke TPS terdekat. Termasuk cah Kost Patra Indah, tempat gw ngekost, pagi-pagi semua sudah saling janjian untuk berangkat bareng. Jadilah kami berangkat jam 10 lewat, setelah nyuci, ngosek kamar mandi, ngepel, ato semua pekerjaan wajib hari libur. Kami berjalan kaki ke TPS 87 dan sesampainya di sana kami disambut dengan irama campur sari. Seru juga, persis kayak layar tancap pas KK dulu.

Satu per satu kami melapor ke meja pendaftaran, tidak ada antrian panjang, kami langsung dapat giliran dan langsung mencoblos di bilik kesil itu. Aku buka kertasnya, kecil jika dibandingkan ama pemilu April kemaren, langsung mencoblos pada nomer presiden yang kupercaya. Blossss...matep man!!

Jika ditengok ke belakang, keputusan untuk mencoblos pasangan presiden ‘itu’ ternyata ada pergumulan yang panjang. Banyak informasi beredar, baik yang menjatuhkan atau menguatkan ‘mereka’ yang mencoba peruntungan menjadi orang nomer satu di negeri ini. Simpang-siur, membuat kita –atau aku tepatnya- bingung. Segala issue dihalalkan, baik minoritas-mayoritas, pendidikan, hutang dan ekonomi makro, lingkungan, track record masa lalu, masih banyak lagi lain. Pers memiliki head-line setiap hari, tidak perlu bekerja keras untuk menbuat oplahnya tinggi. Cukup dengan membahas kekurangan atau kelebihan salah satu calon presiden setiap hari. Bilanglah menghitung kekayaan dinasti masing-masing capres bisa menjadi bahan bahasan selama seminggu malah lebih.

Mulai kampanye, sudah ada candidat yang bisa kupercaya, titik terangnya muncul pada keberaniannya membuat janji politik pada masyarakat Indonesia, terutama mahasiswa, yang hingga kini tetep berusaha kritis seperti pendahulu mereka tahun 66an, 70an dan 80an. Berani kontrak politik itu sudah selangkah lebih maju, terserah nanti akan ditepati ato diingkari. Itu urusan moral pembuat janji. Tapi tetep saja ada adegan yang membuatku senyum, kampanye di pasar, di terminal!!! Hihihi...bikin repot semua orang, terutama copet yang pasti kehilangan kesempatan untuk mencari nafkah [?!].


Ada lagi nih budaya Amrik yang kita tiru, tapi telah kita sesuaikan dengan nilai moral bangsa, DEBAT Presiden. 2 malem diselenggarakan oleh KPU dengan MC Ira Kusno dan disiarkan langsung oleh 3 stasiun TV. Aku nonton di stasiun TV yang ada 3 komentator ‘lucu’nya; Harry Roesli, Butet Kartarejasa ama penulis sinetron INUL. Seru banget, bukan debatnya, tapi ke-3 orang itu. Komentar mereka sangat menggelitik syaraf tawa, seperti: ‘dari semuanya, siapa yang paling ingin melakukan pembaharuan?’ dan dijawab dengan; ‘Ira Kusno’. Hihihi...

Apapun itu, yang pasti aku berani untuk memilih presiden yang menurutku bisa dipercaya dari semua kandidat yang tidak sempurna itu. Tidak hanya berkomentar dan melenggang tanpa merasa perlu untuk memilih. Ya, mereka tidak sempurna memiliki ketimpangan persis seperti yang beritakan selama ini. Tapi merekalah orang terbaik, 5 pasangan capres dan cawapres. Aku memilih salah satu dari mereka tidak dengan jaminan bahwa mereka akan melakukan sesuatu yang ‘sesuai’ dengan pikiran dan cita-citaku. Misalnya karna aku guru pengennya biaya pendidikan menjadi tanggungan negara, gaji tinggi atau karna aku juga golongan minoritas sehingga merasa perlu mendapat perhatian lebih dari capres sekarang. Itu terlalu kecil dan sempit. Masih banyak yang lebih ideal dari pemikiranku!

Hari ini, satu hari setelah pemilu, aku berdendang
PEMILIHAN UMUM TELAH MEMANGGIL KITA
SLURUH RAKYAT MENYAMBUT GEMBIRA
HAK DEMIKRASI PANCASILA
Dst....
[lupa ndak hapal eui....]

ada yang hapal??

No comments: