Tuesday, July 13, 2004

DON'T JUGDE THE BOOK BY IT'S COVER

Pasar Bringharjo punya adik kecil yang sedikit nakal, males mandi jadi jorok. Namanya pasar Shopping. Sebenarnya pasar shopping masih satu kesatuan dengan benteng Vredeburg dengan status tanah milik Sultan.

Setelah ada relokasi pedagang ke pasar Gamping dan Pasar Giwangan beberapa tahun yang lalu, lokasi yang ditinggal dihuni oleh ‘orang baru’. Sedangkan pada kenyataannya pasar Gamping dan Giwangan tidak sesuai keinginan pedagang yang direlokasi. Sangat tidak strategis, transportasi mahal dan miskin konsumen. Ketika mereka ingin kembali ke Pasar Shopping, lapaknya sudah ditempati orang baru dan tidak bisa lagi diambil alih. Sehingga trotoar, pembatas jalan menjadi lokasi yang menjanjikan.

Sebutlah Ibu Sardiyatun, ibu berusia lebih dari 60 tahun ini sudah berjualan di pasar Bringharjo sejak usia 15 tahun, [diusia itu dia menikah], dilantai 2 dan lapak di pasar Shopping. Ibu ini memasok buah-buahan ke pedangan eceran dari pasar bringharjo dan pasar lainnya. Setiap hari beliau memasok lebih 1 truk. Dia bercerita, “dulu ngitung duwit sampe ngantuk...[kebayangkan tumpukannya setinggi apa?!]”. Tapi setelah ikut relokasi ke pasar Giwangan, dagangan tidak laku, busuk!! Matanya berkaca-kaca ketika bercerita tentang mangga 1 truk harus dibuang karena busuk!!! Busuk karena tidak ada pembelinya. Ketika kembali ke Bringharjo dan pasar Shopping, kios dan lapaknya sudah dimiliki orang lain. Mau mengadu kemana? Anak hampir putus sekolah. Trotoar menjadi tempat bersandar, gelar dagangan kecil-kecilan, mengecer. Jurangan yang kehilangan segalanya, termasuk kepercayaan, kepada pemerintah, kepada diri sendiri dan semua orang yang bertanya-tanya atas nama survey seperti aku.

Tapi ada yang mereka –pedagang- percaya. Namanya Pak Nunung, Pak Sumar, Pak Ogah dan -satu lagi aku lupa-. Mereka yang menyuarakan hati pedagang trotoar. Memberi perlindungan sebagai imbalan dari pembayaran retribusi kepada mereka. Siapakah mereka? PREMAN!!! Atau biasa kita , eh saya ding, sebut centeng. Ya, mereka preman, teman! Preman tua yang sangat tahu setiap orang dibawah perlindungannya, membela mereka, memberi kenyamanan untuk memenuhi kebutuhan sejengkal perut, memberi pujian jika ada yang bisa maju dan menyekolahkan anak. Menjadi bapak bagi mereka, predikat yang seharusnya disandang oleh pemerintah.

Kebapakan preman-preman itu juga saya rasakan, selama dua hari berjalan di jalan Pabringan, Limaran, Sriwedari. Mereka mendampingi pendataan, kami tertawa bersama dengan pedagang-pedagang yang beragam asal-usulnya itu. Joget bareng pas ada pengamen dan campur sari jalanan. Keringat dan kulit yang memerah terkena sinar matahari membuat kami sama. Aku kehilangan image seorang preman yang kasar menyeramkan dan keras kepala. Lihatlah, kami bersama makan dipinggir trotoar, kucuil ikan bakarnya hari ini. Debat tentang pasar dan perputaran uang. Masih banyak yang kami lakukan bersama sepanjang jalan di pasar shopping. Dan ketika pedagang terakhir selesai didata, kami saling berjabat tangan dengan erat sebelum berpisah. Mereka bapak, bapak bagi semua pedagang yang menempati tempat ilegal di sana, juga bagi orang seperti aku ketika turun ke pasar.

Ada sesuatu yang tidak terjabarkan kini. Ada citra yang berubah, cara pandang dari sudut lain. Satu sisi kehidupan kembali memberikan pelajaran berharga bagiku. Satu langkah ketahapan dewasa. Yah hingga kini aku masih belajar untuk dewasa.

“mengapa surya bersinar, mengapa air mengalir, mengapa dunia berputar
lihat sgalanya lebih dekat
agar kau mengerti’
[lagu Sherina, dalam film petualangan sherina]

1 comment:

Anonymous said...

ada apa dengan giwangan?

begitu banyak keluhan tentang giwangan. Coba pake search engine, cari tentang giwangan, lebih dari 80% berita berisi "kekacauan". Kerugian yang lagi-lagi menimpa enduser.
Terminal Giwangan dan Pasar Giwangan. PR yang berat untuk pemerintah yang semula ingin menyebarkan kepadatan ke arah selatan (membangkitkan ekonomi wilayah selatan???). Sudah setahun lho!!!

punya cerita apa lagi tentang giwangan mel??? aku mau banget berbagi denganmu ...