Thursday, November 25, 2004

PUISI: Kutemukan Kamu Bukan Kebetulan

Kutemukan kamu bukan kebetulan
Kutemukan karena kumencari
Meraihmu di luar diriku
Dalam batas rapuhku
Kucoba tatap kelembutanmu
Jauh di dalam rasa cemasku
Bagai angin senjakala
Yang membawa lalu angan sepi pelarianku

Ku tertatih bangkit dari keraguanku
Menatap lantang pada BAPAKU
KAU tahu segalanya.
Mengapa KAU hadirkan saat ini?
Bukan dahulu atau tidak sama sekali!!
KAU tahu segalanya
Kerinduan dan kerapuhanku

Kasih,
Kau hadir dalam adaku
Kau renggut saatku
Bukan karena kau
Tapi aku
Aku yang asing dengan diri sendiri
Aku menangis dalam kekalahanku
Aku lari….lari dengan luka-lukaku
Luka bahagia

Kulawan semua batas logika
Kuingin benih ini tumbuh dalam kesederhanaan
Sekeping saat dalam kehidupan
Yang memberi kecup hangat
Dalam letih lelah
Walau untuk itu aku akan terluka…
TUHAN, aku jatuh cinta

PS: sebuah puisi dari fila lama seorang teman.

Thursday, November 18, 2004

kolam ikan BAPAK

Telfon pagi itu membangunkanku dari tidur yang memang baru sebentar saja. Imsonia memang sering hinggap sekarang, apakah karena usia sudah diambang kepala 3, tidak taulah. Yang pasti telfon Bapak tidak hanya mengganggu tidurku, tepi juga Ine, ponakanku. Dengan serabutan, aku mencari HP, di meja gak ada, di tas…duh di tas, tas yang mana. Akhirnya dengan mata yang belum bisa terbuka penuh, HP dapat kuraih dari dasar tas laptop.

Kutekan tombol menerima, “ya Pa….” jawabku dengan sangat malas. “hallo Nang…sehat-sehat saja?”, Tanya Bapak. “Sehat Pa…kemaren jumat ketemu Sardo, dia juga sehat. Tadi malem paper yang Singapore selesei, udah terkirim dengan sukses.”

Kemudian percakapan lanjut kearah yang lain, percakapan kami selalu seperti ini, bagai seorang sahabat bicara dengan sahabat lamanya. Sampai akhirnya aku ingat akan kolam ikan Bapak. Beberapa hari ini siaran berita di TV dan Koran nasional mengabarkan kalo ikan yang dibudidayakan di karamba yang ada di sekitar Danau Toba terkena penyakit, katanya sih itu penyakit disebabkan oleh sejenis virus. Seperti virus lainnya, penyakit ini juga belum ada obatnya dan vaksinnya juga belum ditemukan. Selama ini aku yakin saja, kalo kolam Bapak tidak akan terkena penyakit itu. Karena kolam Bapak ada di anak Sungai yang sangat jauh dari Danau Toba.

“Bapak, ikannya gimana? Ndak kena dampaknya to?”. Lama Bapak terdiam, aku sangat khawatir menunggu, ketika hendak aku tanyakan lagi, Bapak sudah menjawab,”Kena juga loh,” sahutnya lemah. Waaa panik-lah aku….”Kok bisa Pak?” lalu Bapak bercerita tentang asal muasalnya; pemilik kolam, yang lokasinya tiga tempat di atas kolam Bapak, juga memiliki karamba di Danau Toba. Usahanya untuk menyelamatkan ikan-ikan karambanya adalah dengan membawa ikan tersebut ke kolamnya. Dengan demikian ikan-ikan itu menulari seluruh kolam yang ada di bawahnya. Yang namanya air sungai mengalir dari hulu ke hilir adalah pakem yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Virus-virus itupun bergerak mengikuti arah air sungai.

Ya… namanya juga usaha, kita tidak tahu kapan bisa berkembang dengan cepat dan kapan goncangan datang. Bapak sempet sakit karena kejadian itu. Tidak ada yang bisa disalahkan, mengapa penyakit yang seharusnya berada jauh di danau Toba sana mampir di kolam Bapak. Sampai waktu Bapak menelpon, belum semua ikan mati. Sedangkan ikan pemilik kolam diatas Bapak sudah abis, mati massal beberapa hari yang lalu. Harapan akan mendapatkan untung pada masa lebaran ini hilang sudah, berganti mau busuk ikan yang belum hilang hingga kini. Seluruh teman-teman Bapak yang kolam ikannya sejalur merasa solider,saling menghibur. That’s what friends are for.

Mama cerita, kali Bapak sempat agak terguncang, ke dokter dikasih obat penenang. Untunglah hanya 2 kali minum, kondisi Bapak sudah kembali pulih, bahkan sudah bisa bicara ditelpon denganku, dengan tenang tanpa ada luapan emosi yang berlebihan mengenai bencana yang menimpa kolam ikannya. Menurut Mama, itu semua resiko orang yang ber’usaha’ dengan mandiri, tidak ada jaminan dari manapun. Hmmm… Bapak beruntung punya istri seperti Mama, tidak cerewet dan uring-uringan walau sudah kehilangan ‘uang’ berpuluh juta.

Bahkan Bapak dengan santai bilang begini, “walaupun begini, rencanamu bulan desember tetap saja, tidak ada berubahan, pasti ada rencana Tuhan diatas semuanya ini.” Sebuah keimanan yang sangat dalam, yang diperlihatkan dengan sikap bukan dengan kata-kata. Sebuah penyerahan yang sangat luarbiasa menurutku. Bagaimana tidak, rencana di bulan Desember itu bukan sebuah acara yang murah dan mudah. Sebuah acara pertama yang dilakukan di dalam keluarga Bapak, sebuah momentum yang menentukan keberlangsungan keluarga. Acara yang memang sudah lama sekali ditunggu oleh Bapak dan Mama. Acara yang aku harus menunggu lama dalam perenungan tiada batas, belajar melihat yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan.

Kekuatan yang sangat luarbiasa dapat ku lihat pada diri Bapak, sebuah dorongan yang sangat menyentuh mata-bathinku. Sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga, memang betapa Orangtua adalah perpanjangan tangan kasih Allah kepada kita. Lihat, lihat dengan sangat jelas, betapa kesusahan mereka tidak dibiarkan menjadi kesusahan kita anaknya. Diakhir pembicaraan, Bapak dan Mama berpesan, “Jangan kasih tau Ipen dan Sardo ya, mereka kan lagi skripsi, entar gak konsentrasi!”.

Jangan tanya gimana ‘rasa’ didalam hati ini! Rasanya seperti diremas tangan berduri. Perih nan dalam. Apa yang harus aku perbuat untuk membalas semuanya Bapak, adakah yang bisa aku usahakan untuk mengurangi sakit ini. Aku tidak akan menyalahkan kondisi, seperti yang Bapak ajarkan diawal pembicaraan tadi. Tapi beritahu aku apa yang bisa aku Bantu, apa yang bisa aku lakukan ditengah keterbatasanku! Bapak… kami sangat menyanyangimu…sungguh…

Air mata menetes pelan, pada saat HP kumatikan. Thanks God, You give us the best parents of the world. Thank you GOD, Thank you My Lord.

Thursday, October 28, 2004

Pelihara Anjing

Patty... itu nama anjingku. Pompom putih, betina. Sekarang masih di Kelaten ditemuin dengan Coco, pompom jantan berwarna coklat. Tapi belum berhasil, belum ada Patty or Coco yunior hingga sekarang.

Tapi yang ingin saya tulis bukan tentang Patty ato Coco, tapi tentang perumpamaan yang pernah diceritakan oleh Cikgu.

Katanya:
Memelihara anjing itu sangat lucu, dia begitu setia dan sangat paham siapa tuannya dan siapa orang asing. Juga sangat paham jika diajak bermain dan mengerti ketika diberi makan. Sekekor anjingpun sangat tahu berterima kasih pada Tuannya untuk segala sesuatu yang telah diberikan oleh Tuannya.

Namun, semua itu akan hilang jika anjing terkena rabies, sejenis penyakit yang biasanya dikenal dengan 'anjing gila'. Maka dia akan menggigit siapapun, bahkan tuannya yang sedang memberikan makanan kepadanya. Pada kondisi yang seperti ini, rasa kasihan pada anjing kesayangan juga harus dihilangkan, karena akan membahayakan nyawa pemiliknya dan juga orang disekitarnya. Jika dengan rasa kasihan anjing gila kita lepas, maka dia akan menyerang kita dengan sangat buasnya. Sehingga anjing itu harus disingkirkan, atau diikat hingga mati. Ada juga yang langsung mematikan anjing yang sudah positif terkena 'penyakit anjing gila'. Semua itu bertujuan utuk menjaga keselamatan, bukan karena kesadisan.

Perumpamaan ini diceritakan Cikgu karena sebuah perasaan yang mungkin lebih parah dari 'gigitan' anjing gila yang dialaminya beberapa waktu ini. Sebuah perasaan sakit dihati yang susah disembuhkan karena obatnya tidak tersedia di apotik manapum, bahkan serum yang menyembuhkannya pun belum ada. Uang sebanyak apapun tidak mampu mengobati luka dihatinya.

Ada keheranan yang tidak terjawab, mengapa Cikgu membiarkan situasi atau kondisi yang mengakibatkan sakit di hatinya dengan kondisi yang sangat parah itu? Salah satu alasan adalah karena rasa kasih-an....kasih dan kasihan. Sehingga Cikgu tetep mau berbagi dengan tulus dan iklas sambil berharap waktu akan menyelesaikan semuanya. Namun apa yang dirasakannya kini, adalah buah yang harus ditelan, buah yang berasa pahit dan sakit di hati, akibat rasa 'kasih/an' tetapi salah dalam pemilihan 'objek' yang harus dikasihi/ani.

Nasi sudah menjadi bubur, itulah yang kini dirasakan oleh Cikgu. Sakit dihati belum ada obatnya, merenunglah Cikgu dan menghasilkan cerita tentang memelihara 'anjing yang terkena penyakit anjing gila'. Dalam sekali maknanya. Aku hanya diam saja tidak komentar setelah mendengarkannya.

Cikgu apakah sebuah kata MAAP dapat mengobatimu? Harus dimana kita mencari kata itu? adakah yang menjualnya? Mahalkah harganya? Apa kita sanggup memdapatkannya?

Cikgu, sudahlah. Kalau kita kembali ke perumpamaan anjing: Anjing itu tidak akan sudi terkena penyakit, apalagi penyakit anjing gila. Mungkin lingkungan yang membuat dia terinfeksi penyakititu. Penyakit yang mematikan perasaan dan logika keanjingannya. Penyakit yag membuat anjing lupa akan segalanya, hanya kegilaan yang membabi-buta, menyerang adalah tindakan yang terbaik untuk menyelamatkan dirinya. Gong-gongan dan salakan yang keras dan kasar adalah efek dari kegilaan itu juga. Tapi itu bukan pilihannya, mungkin lingkungan yang memilih dia untuk terjangkit 'penyakit'.

Sekali lagi sudahlah Cikgu, habis waktumu menyesalinya. Sekarang yang penting adalah mengobati diri sendiri. Badanmu memiliki antibody bawaan, yaitu melawan rasa sakit dengan 'memaapkan'. Susah, ya emang!!! Namanya juga mengobati diri sendiri, pasti lamaaaa dan sakiiittt! Tapi dijamin, dengan bantuan temen-temen, pasti akan pulih. Badai di hati akan cepat berlalu.

OKS....

Saturday, October 23, 2004

SABTU NAN SIBUK

Siapa yang bilang klo sabtu masa-masa santai setiap minggunya. Jangan salahkan aku klo agak sinis begitu. Mungkin saja Anda tidak setuju dengan pendapatku ini. Tapi pengalaman, beberapa sabtu ini adalah hari tersibuk dalam seminggu.

Yang masih jelas dalam ingatan adalah kejadian 2 sabtu kemaren hingga sabtu ini.

2 minggu yang lalu, Prodi Arsitektur membuat seminar yang bertema 'rumah untuk semua' kerjasama dengan Habitat Indonesia. Cukup sukses acaranya. Saya menjadi salah seorang moderator sesi, untunglah sesi kedua pikirku. Ternyata karena keterbatasan SDM, maka aku juga merangkap menjadi MC.... Menjadi moderator bukanlah cita-citaku, sebab aku pengen jadi pembicara. Tapi apa daya pekerjaan dengan Bappeda membuat aku tidak bisa membagi pikiran dan menulis. Yang paling tidak kucita-citakan adalah menjadi moderator pada sesi yang speakernya adalah wong londo....bule Amrik!!!! Tobat aku....persiapannya bikin semewen....lebih senewen dibandingkan dengan persiapan presentasi kelas bahasa inggris.

seminggu yang lalu, berharap bisa tidur seharian...atau berbenah kamar kost-kostan lah kalo lagi rajin. Tapi...ya ampun.....harus menguji skripsi!!!!! mulai jam pertama dan berakhir jam 15.00.... pulang dah loyo dan tertidur dengan sukses..what a saturday night...ugh!!!

Hari ini, seharian mengerjakan pekerjaan Bappeda. PAgi-pagi dah ketemu dengan pimpinan pekerjaan. Siang nyusun strategi penyelesaian. Sore hingga jam ini [18.25] ngeprint, ngopi dan menyusun draft laporan akhir. Mhmmmm....asyik juga sih sambil dengerin musik dari radionya YM...*menghibur diri ni....*

Besok....jangan tanya Bo'.... tidak berbeda dengan hari ini.....tiada bedanya!!!
So, selamat menikmati malam minggu teman-teman....
semoga tidak terjebak pekerjaan seperti diriku.

Friday, October 22, 2004

Presiden Baru Indonesia

Ini adalah gambar sosok presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia: Susilo Bambang Yodhoyono [SBY]
Presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia. Sosok yang akhir-akhir ini menjadi sorotan dengan berbagai cara pandang; dipuja-dihujat, dipercayai-dikhawatirkan, diangkat-dijatuhkan. Baik oleh media maupun perseorangan.
Namun ada satu kesamaan si penyibir dan si pemuji, semuanya menyandarkan banyak hal di bahunya. Perbaikan bangsa baik secara fisik maupun moral. Beban yang beratnya tidak terhingga. Sehingga sangat ironis bagi saya melihat, mendengar dan membaca berita-berita yang mencari celah dan kekurangan SBY. Siapa yang mampu memperbaiki negara ini hanya dengan menjabat sebagai presiden? Tidak ada!!!! Dia hanya manusia biasa yang dipilih menjadi pemimpin.
Pemimpin itu dibutuhkan bukan untuk menyembuhkan borok-borok yang sudah menahun, tetapi merangkul kita semua, rakyat Indonesia untuk sama-sama mau berusaha melakukan pembenahan disana-sini! Pemimpin diperlukan dalam memberikan arahan, visi dan misi yang jelas dan mudah dimengerti.
Selamat bekerja Bapak Presiden....
Semoga harapan rakyat yang telah memilih Anda memberikan masukan dalam penyusunan rencana strategis perbaikan negaranya ini.
Saya sebagai anak bangsa mendukung, dengan sepenuh hati!